Es Dung-Dung Kenangan Yohanes Chandra

Es Dung-Dung mempunyai banyak nama. Ia dikenal dengan sebutan es tong-tong, es dong-dong, es tung-tung, atau mungkin yang lebih sering didengar adalah es puter. Ia pernah berjaya di tahun 1980-an hingga 1990-an. Kali ini Yohanes Chandra Eka ingin menggali lagi kenangan generasi muda dengan olahan baru dari es dung-dung.

dung-dung-yohanes-eka-jaya

Menurut Yohanes Chandra Ekajaya, es dung-dung diciptakan pada masa penjajahan. Saat itu para penduduk pribumi tidak bisa merasakan nikmatnya es krim milik orang Belanda. Karena sangat ingin merasakan sensasi makan es krim, makanya para penduduk pribumi tersebut kemudian mengganti bahan susu pada es krim dengan santan kelapa. Sebab harga susu pada saat itu jelas tidak dapat dijangkau oleh para penduduk.

es-dung-dung-kenangan-yohanes-chandra

Pengusaha Yohanes Chandra Ekajaya mengatakan bahwa dari keterbatasan, kadang akan muncul sebuah kekreativitasan yang tinggi. Mungkin penduduk pribumi yang mengganti bahan susu dengan santan kelapa tersebut tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tersebut justru membuat rasa dari es dung-dung ini begitu lembut dan sangat legit.

yohanes-eka-dung-dung

Sedangkan nama dung-dung sendiri menurut Yohanes Chandra diambil dari gong kecil yang terbuat dari besi yang dipukul dengan irama dung-dung-dung. Sehingga orang-orang kemudian menamainya dengan nama es dung-dung. Untuk membuat es dung-dung sebenarnya cukup mudah, bahan-bahan yang perlu dipersiapkan adalah santan, gula pasir, tepung sagu, tepung kanji, tepung hunkwe, garam, air matang, dan es batu sesuai takarannya masing-maisng.

Yohanes Chandra Eka mengatakan bahwa bahan-bahan tepung dijadikan satu ke dalam wadah, lalu

dimasukkan ke dalam air yang matang dan diaduk terus-menerus hingga adonan tersebut menjadi kental seperti bubur. Lalu masukkan semua bahan yang sudah dipersiapkan. Bagian yang paling penting adalah memasukkan adonan es dung-dung ke dalam termos. Termos tersebut harus kedap udara, dan biasanya terbuat dari kaca.

Untuk penyajian bisa disesuaikan dengan selera. Yohanes Chandra Ekajaya suka menyajikannya bersama dengan roti dan monte. Ketan hitam juga menjadi pemanis, sehingga rasa yang dihasilkan dari es dung-dung YCE memang sangat enak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s