Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit Membongkar Misteri Indonesia

Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit dengan baju berwarna kuning cerah, perlahan mengambil microfon dan menghidupkannya, lalu mengarahkannya ke depan mulut. “Ehm, Hong wilaheng awignam asthu namas siddam”.  Ia mengucapkan salam pembuka. Kumis tebal menyamping, mengingatkan para hadirin dengan sosok Tjokroaminoto. Andai saja ia memakai baju adat Jawa yang wingit dan berwibawa, pasti semua orang memang akan menyangkanya sebagai Tjokroaminoto, atau bahkan mungkin sebagai Tirto Adhi Soerjo.

ki-yohanes-eka-chandra-pantai

ki-yohanes-eka-chandra-sambarlangit-membongkar-misteri-indonesia

Kerah leher agak terbuka, karena kancing di bagian atas tidak dikancingkannya. Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit kemudian mulai berbicara. Suaranya berat dan dalam. “Misteri Indonesia. Misteri apakah yang menjadi pertanyaan rakyat Indonesia? Sangat banyak.”

Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit berdiri. Ia mulai berjalan ke depan. Dengan baju atasan warna kuning cerah, dipadu warna biru jeans, dan sepatu boot, beliau mempresentasikan hasil penelitiannya. “Candi. Candi sebenarnya dibaca “syandi”. Jadi candi ini merupakan sandi-sandi, atau istilah kerenya adalah kode. Kode dari siapa? Untuk siapa? Dan untuk apa? Itu yang menjadi pertanyaan terpenting.”

Hadirin yang datang berasal dari beragam latar belakang. Tapi yang jelas, mereka adalah kaum urban baru yang sedang gandrung intelektualitas. Berkacamata, celana jeans dan kemeja yang bersih nan wangi,  parfum, dan sedikit obrolan yang sok intelektual menghiasi suasana di kursi-kursi hadirin. Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit melanjutkan, “dalam cerita kethoprak, diceritakan bahwa leluhur kita membuat candi dengan memotong, menatah, dengan menggunakan peralatan sederhana. Bahkan untuk menyusunnya pun menggunakan putih telor. Andai saja itu benar, pastilah sangat hebat.”

Suaranya menggema. Hadirin seakan terhipnotis. Sel-sel otak mereka yang selama ini salah sambung seakan menemukan jalurnya. Raut wajah mereka heran dan penasaran, seakan ingin bertanya,” oiya ya, lalu bikinnya bagaimana ya?” Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit langsung cepat menyambar bawah sadar para hadirin. “Kalian tahu betapa keras batu-batu yang digunakan untuk membangun candi? Untuk pembuktian, coba saja kalian tanya ke tukang pemahat batu. Pasti tukang batu itu akan menolak! Karena batu itu sangatlah keras.”

Maju ke tengah para hadirin, Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit menjabarkan hasil sebuah penelitian. Penelitian tersebut berhasil membuat batu andesit menjadi lunak dengan menggunakan bahan kimia. Tetapi yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah “bagaimana batu-batu itu dibentuk menjadi relief-relief?” Karena ketika sudah lunak, batu itu menjadi sangat lunak, sehingga sulit dibentuk.

“Tetapi jika saja memang menggunakan bahan kimia, apakah leluhur kita sudah mampu untuk meracik ramuan kimia seperti yang diujicobakan tersebut? Ataukah mungkin saja, leluhur kita menggunakan teknologi laser untuk memotong dan membuat relief di candi-candi?” tanya Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit.

“Sebab, ketika terjadi gempa bumi di Yogyakarta, tepatnya bulan Mei 2006, candi Prambanan runtuh sebagian. Tetapi dari reruntuhan tersebut para peneliti dan ilmuwan justru mengetahui bahwa ternyata candi-candi di Nuswantara telah menggunakan teknologi fragtal. Padahal untuk teori fragtal sendiri, dalam dunia arsitektur modern baru ditemukan pada tahun 1995.” Seolah penuh kemenangan, Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit menebarkan senyum kepada para hadirin. Ia sengaja untuk membuat para hadirin bertanya-tanya , sehingga nanti bisa ditindaklanjuti dalam sesi tanya-jawab. Beliau melangkah pelan, menuju meja pembicara. Tatapannya tajam, mantap, dan meneduhkan. Dalam salam penutupnya, Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit berucap, “Begitu saja dulu, nanti kita lanjutkan dalam sesi tanya-jawan. Hong wilaheng awighnam asthu namas siddam”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s